Kamis, 02 April 2009

Coba kita renungkan

perjalanan ini terasa sangat menyedihkan sayang engkau tak duduk di sampingku kawan banyak cerita yang mestinya kau saksikan di tanah kering berbatuan ho ho ho ... ho ho ho ...
tubuhku terguncang dihempas batu jalanan hati tergetar menambah kering rerumputan perjalanan ini seperti jadi saksi gembala kecil menangis sedih ho ho ho ... ho ho ho ...
kawan coba dengar apa jawabnya ketika kutanya mengapa bapak ibunya telah lama mati ditelan bencana tanah ini sesampainya di laut kukabarkan semuanya kepada karang kepada ombak kepada matahari tetapi semua diam tetapi semua bisu tinggal aku sendiri terpaku menatap langit
barangkali di sana jawabnya mengapa di tanahku terjadi bencana mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa dosa atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang ho ho ho ... ho ho ho ... _SURAT UNTUK SAHABAT_Ebiet G.Ade_
Pasti semua tau lagu ini, mungkin sekedar mendengar dari cuplikan berita di TV, diradio atau memang ng-Fans sama kang Ebiet..
Yah, Lagu ini yang begitu menyayat hati buatku dan mungkin juga lainnya.
lagu yang menjadi "lagu wajib" saat negara dan bangsa ini ditimpa bencana atau musibah yang begitu menyakitkan.
mulai dari Tsunami di Aceh, Gunung meletus, kecelakaan transportasi, sampai yang paling dekat saat ini adalah tragedi jebolnya tanggul di Situ Gintung.
Syair demi syair yang dituliskan dalam lagu tersebut, melukiskan betapa sedih yang tak dapat dibayarkan..
Wallahu'alam, hendak berpesan apa Allah SWT pada hamba-hambaNya?
Teguran kah ini atas segala kelalaian dankerusakan yang dilakukan kita manusia dan makhlukNya?
atau Cobaan kah untuk menguji seberapa besar ketakwaan kita kepadaNya?
mungkin kita lalai, mungkin ini merupakan serangkaian kesalahan kita yang akhirnya Allah menginginkan kita menjadi lebih baik dari segala peristiwa ini?
Pagi itu, saat sang mentari belum penuh menampakan sinarnya
Saat wajahnya masih malu-malu dilangit Tanggerang dan Jakarta
Saat adzan subuh baru selesai dikumandangkan
Dan sebagian besar warganya belum genap terbangun dari lelapnya tidur semalam.
Air yang tadinya tenang dan menenangkan dengan pemandangan indah nan asri.
berubah murka dalam seketika..
Dalam sekejap tanggul kokoh itu, yang menjadi tempat berlindungnya ratusan bahkan ribuan orang meledak dan pecah..
Jutaan ton kubik air menerjang, menghancurkan, merenggut dan meluluh lantahkan apapun yang ada disekitanya.
tak peduli anak-anak, lansia, wanita hamil, remaja dan hewan-hewan diterjang dan disapu dalam jangka waktu sepersekian menit bahkan detik.
Jum'at pagi itu berubah menjadi jum'at kelabu,
jum'at kelabu di Situ Gintung..
Dalam waktu beberapa jam setelah kejadian, mayat-mayat banyak bergelimpangan dimana-mana..
Tersangkut dipohon, terhanyut aliran sungai, tertimbun tumpukan sampah, tertimbun lumpur dan terjebak didalam rumahnya.
Ya Rabb, ujian atau azab kah ini??
Rumah indahku berubah jadi kuburan sementaraku??

Silahkan kita renungi dan ambil ibrah dari semua kejadian ini. Jangan sampai nyawa tak berdosa kembali terenggut karena kesalahan kita.

Inalillahi wa inailaihi roji'un

Tidak ada komentar:

Posting Komentar